Skor Barcelona vs Olympiakos 6-1: Marcus Rashford yang Terlahir Kembali Bersama Blaugrana

0 0
Read Time:4 Minute, 38 Second

Barcelona vs Olympiakos, Barcelona kembali menunjukkan superioritasnya di panggung Eropa. Pada laga ketiga fase grup Liga Champions 2025/2026, tim asuhan Hansi Flick tampil luar biasa dengan kemenangan telak 6-1 atas Olympiakos, Selasa (21/10/2025) malam WIB di Estadi Olímpic Lluis Companys.
Namun, sorotan utama tidak lain tertuju kepada Marcus Rashford, pemain pinjaman dari Manchester United yang tampil luar biasa dengan mencetak dua gol dan berperan besar dalam pesta gol Barcelona.

Kemenangan ini bukan sekadar tiga poin bagi Blaugrana, melainkan simbol dari kelahiran kembali Rashford—seorang pemain yang sempat tersesat di Old Trafford namun kini kembali menemukan kebahagiaannya di Catalunya.


Ketajaman Marcus Rashford di Liga Champions

Barcelona vs Olympiakos, Marcus Rashford seolah menikmati setiap menit di bawah arahan Hansi Flick. Penyerang asal Inggris tersebut mencetak brace (dua gol) ke gawang Olympiakos, yang sekaligus menjadi brace keduanya di Liga Champions musim ini.

Sebelumnya, Rashford juga tampil tajam saat Barcelona mengalahkan Newcastle, di mana ia turut mencetak dua gol dan satu assist. Dengan tambahan kontribusi di laga ini, Rashford kini memuncaki daftar pemain dengan keterlibatan gol terbanyak (5) di kompetisi elit Eropa musim 2025/2026.

“Senang bisa mencetak dua gol, dan Fermin dengan hat-tricknya, ini adalah performa yang luar biasa dari tim,” ujar Rashford melalui kanal resmi Barcelona.
“Kami puas dengan hasil ini dan akan terus berjuang di pertandingan berikutnya,” tambahnya penuh percaya diri.

Statistik impresif tersebut menunjukkan bahwa Rashford bukan hanya sekadar pemain pinjaman, tetapi sosok yang menjadi motor serangan baru bagi Blaugrana.


Target Pribadi Rashford yang Ambisius

Rashford tidak hanya kembali menemukan ketajamannya dalam mencetak gol, tetapi juga menunjukkan perubahan besar dalam mentalitasnya. Menurut laporan media Spanyol, sang pemain kini menargetkan untuk menjadi kreator utama Barcelona dengan ambisi mencatat 30 hingga 40 assist sepanjang musim.

Target ini tergolong sangat tinggi, mengingat dalam tiga musim terakhir bersama Manchester United, Rashford hanya mencatat total 27 assist.
Namun, di bawah sistem permainan Hansi Flick yang menekankan kombinasi cepat dan serangan sayap dinamis. Rashford tampak semakin matang dalam membaca permainan dan menciptakan peluang.

Perubahan mindset ini menjadi indikasi bahwa Rashford kini lebih dewasa secara mental dan profesional. Ia tidak lagi hanya mengandalkan kecepatan dan naluri mencetak gol, tetapi juga menjadi pemain yang lebih komplet di lini depan Barcelona.


Menemukan Kembali Kehidupan di Catalunya

Performa luar biasa Rashford di Spanyol menjadi bukti bahwa perubahan lingkungan bisa membangkitkan kembali karier seorang pemain. Di Barcelona, ia tampak lebih rileks, fokus, dan menikmati sepak bola yang ia mainkan.

Sebelumnya, karier Rashford di Manchester United sempat mengalami penurunan drastis. Ia gagal beradaptasi dengan gaya bermain manajer baru, Ruben Amorim, serta kerap menjadi sasaran kritik karena inkonsistensi performa.
Rashford pun sempat mengungkapkan bahwa “lingkungan yang tidak stabil” di Old Trafford membuatnya sulit berkembang secara maksimal.

Kepindahannya ke Barcelona menjadi titik balik. Dengan dukungan pelatih yang percaya pada kemampuannya dan atmosfer sepak bola yang lebih positif, Rashford kini terlihat lebih bahagia dan produktif.
Bahkan, para penggemar Blaugrana mulai menyebutnya sebagai “The New Henry” karena gaya bermainnya yang eksplosif dari sisi kiri.


Kritik Tajam dari Roy Keane

Meski kini bersinar di Spanyol, Rashford tidak lepas dari kritik pedas dari legenda Manchester United, Roy Keane. Eks kapten Setan Merah itu menilai Rashford merupakan bagian dari masalah besar yang dialami klub lamanya.

Menurut Keane, Rashford seharusnya menjadi sosok yang memberikan contoh bagi pemain muda United. Namun, yang terlihat justru sebaliknya: performa yang tidak konsisten dan sikap yang kerap mengecewakan.

“Sebagai pemain senior, dia seharusnya menetapkan standar dan menunjukkan seperti apa rasanya menjadi pemain Manchester United,” tegas Keane.
“Namun itu tidak terlihat. Sekarang dia punya kesempatan baru di Spanyol dan bersama tim nasional Inggris, semoga dia bisa membuktikan diri.”

Ucapan Keane ini seolah menjadi cambuk bagi Rashford untuk terus berkembang. Dan melihat performanya di Barcelona sejauh ini, tampaknya Rashford benar-benar menjawab kritik tersebut dengan kerja keras dan performa nyata di lapangan.


Masalah Bahasa Tubuh yang Jadi Sorotan

Salah satu hal yang paling sering disorot oleh publik terhadap Rashford adalah bahasa tubuhnya di lapangan. Ia kerap tertangkap kamera terlihat kurang bersemangat, enggan menekan lawan, atau lambat dalam membantu pertahanan.

Roy Keane pun menyoroti hal ini dengan cukup tajam.

“Tidak ada yang meragukan bakat Rashford. Tapi yang membuat fans frustrasi adalah bahasa tubuhnya — terkadang terlihat malas, tidak berlari kembali, atau tidak melakukan pressing dengan benar,” ungkapnya.

Namun, di Barcelona, masalah itu nyaris tidak terlihat. Rashford tampak jauh lebih aktif, agresif dalam pressing, dan berperan besar dalam sistem transisi cepat yang diterapkan Hansi Flick.
Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan yang tepat mampu memunculkan sisi terbaik seorang pemain.


Menuju El Clasico: Ujian Sejati Rashford

Setelah tampil gemilang di Liga Champions, Rashford kini dihadapkan pada tantangan yang lebih besar: El Clasico. Akhir pekan nanti, Barcelona akan bertandang ke Santiago Bernabeu untuk menghadapi Real Madrid — laga yang akan menjadi debut El Clasico bagi Rashford.

Pertandingan tersebut akan menjadi panggung pembuktian sejati bagi pemain berusia 27 tahun itu. Apabila ia mampu tampil menonjol di laga terbesar dunia sepak bola Spanyol ini, maka kebangkitannya akan terasa semakin lengkap.

Rashford tidak hanya punya kesempatan untuk menegaskan statusnya sebagai bintang baru Barcelona, tetapi juga untuk membuktikan kepada publik Inggris dan fans Manchester United bahwa ia belum habis.


Kesimpulan

Barcelona vs Olympiakos, kemenangan Barcelona atas Olympiakos bukan hanya pesta gol, tetapi juga simbol kebangkitan Marcus Rashford.
Dari pemain yang kehilangan arah di Old Trafford, kini ia menjelma menjadi sosok vital di skuad Blaugrana. Dengan semangat baru, target ambisius, dan dukungan penuh dari Hansi Flick, Rashford tampaknya siap menulis babak baru dalam kariernya.

Jika performa ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin Barcelona akan mempermanenkan jasanya — dan Rashford akan benar-benar “lahir kembali” sebagai bintang besar di tanah Catalunya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Daftar Peraih Man of The Match Liga Champions 2025/2026

0 0
Read Time:2 Minute, 33 Second

UEFA kembali menghadirkan penghargaan Man of the Match di setiap laga Liga Champions musim 2025/2026. Penghargaan ini diberikan kepada pemain dengan performa paling menonjol pada setiap pertandingan.

Pemenang ditentukan langsung oleh UEFA Technical Observer Group selama pertandingan berlangsung. Setelah laga usai, pemain terpilih menerima trofi resmi sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya.

Penghargaan ini menjadi cara UEFA menyoroti kontribusi individu yang membuat laga semakin seru. Selain hasil tim, penampilan pemain kini ikut menjadi sorotan utama penggemar.

Di daftar berikut, nama tim yang dicetak tebal menandakan klub dari pemain yang terpilih sebagai Man of the Match.


Daftar Peraih Man of The Match Liga Champions 2025/2026

Matchday 1

Selasa, 16 September 2025

  • Athletic Bilbao 0-2 Arsenal – Gabriel Martinelli
  • PSV Eindhoven 1-3 Union SG – Anouar Ait El Hadj

Rabu, 17 September 2025

  • Juventus 4-4 Borussia Dortmund – Dusan Vlahovic
  • Real Madrid 2-1 Marseille – Kylian Mbappe
  • Benfica 2-3 Qarabag – Pedro Bicalho
  • Tottenham 1-0 Villarreal – Lucas Bergvall

Kamis, 18 September 2025

  • Olympiacos 0-0 Pafos – Derrick Luckassen
  • Slavia Praha 2-2 Bodo/Glimt – Lukás Provod
  • Ajax Amsterdam 0-2 Inter Milan – Marcus Thuram
  • Bayern Munchen 3-1 Chelsea – Harry Kane
  • Liverpool 3-2 Atletico Madrid – Virgil van Dijk
  • PSG 4-0 Atalanta – Khvicha Kvaratskhelia
  • Club Brugge 4-1 AS Monaco – Hans Vanaken
  • FC Copenhagen 2-2 Bayer Leverkusen – Jordan Larsson

Jumat, 19 September 2025

  • Eintracht Frankfurt 5-1 Galatasaray – Jonathan Burkardt
  • Manchester City 2-0 Napoli – Phil Foden
  • Newcastle 1-2 Barcelona – Marcus Rashford
  • Sporting Lisbon 4-1 Kairat Almaty – Francisco Trincao

Matchday 2

Selasa, 30 September 2025

  • Atalanta 2-1 Club Brugge – Mario Pasalic
  • Kairat Almaty 0-5 Real Madrid – Kylian Mbappe

Rabu, 1 Oktober 2025

  • Atletico Madrid 5-1 Eintracht Frankfurt – Julian Alvarez
  • Chelsea 1-0 Benfica – Marc Cucurella
  • Inter Milan 3-0 Slavia Praha – Marcus Thuram
  • Bodo/Glimt 2-2 Tottenham – Jens Petter Hauge
  • Galatasaray 1-0 Liverpool – Victor Osimhen
  • Marseille 4-0 Ajax Amsterdam – Pierre-Emerick Aubameyang
  • Pafos 1-5 Bayern Munchen – Harry Kane

Kamis, 2 Oktober 2025

  • Qarabag vs FC Copenhagen –
  • Union SG vs Newcastle United –
  • Arsenal vs Olympiacos –
  • AS Monaco vs Manchester City –
  • Bayer Leverkusen vs PSV Eindhoven –
  • Borussia Dortmund vs Athletic Bilbao –
  • Barcelona vs PSG –
  • Napoli vs Sporting Lisbon –
  • Villarreal vs Juventus –

Matchday 3 (Akan Datang)

Selasa, 21 Oktober 2025

  • Barcelona vs Olympiacos –
  • Kairat Almaty vs Pafos –

Rabu, 22 Oktober 2025

  • Arsenal vs Atletico Madrid –
  • Bayer Leverkusen vs PSG –
  • FC Copenhagen vs Borussia Dortmund –
  • Newcastle United vs Benfica –
  • PSV Eindhoven vs Napoli –
  • Union SG vs Inter Milan –
  • Villarreal vs Manchester City –

Kamis, 23 Oktober 2025

  • Athletic Bilbao vs Qarabag –
  • Galatasaray vs Bodo/Glimt –
  • AS Monaco vs Tottenham –
  • Atalanta vs Slavia Praha –
  • Chelsea vs Ajax Amsterdam –
  • Eintracht Frankfurt vs Liverpool –
  • Bayern Munchen vs Club Brugge –
  • Real Madrid vs Juventus –
  • Sporting Lisbon vs Marseille –

Kesimpulan

Daftar peraih Man of the Match Liga Champions 2025/2026 akan terus diperbarui setiap matchday. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa peran individu bisa sangat menentukan jalannya pertandingan, selain kerja sama tim.

Pantau terus artikel ini untuk update terbaru siapa saja pemain yang tampil gemilang di pentas Liga Champions musim ini.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
100 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Menang Besar Lawan Slavia Praha, Cristian Chivu Acungi Jempol Performa Inter Milan!

0 0
Read Time:4 Minute, 9 Second

Cristian Chivu, Inter Milan kembali menunjukkan kelasnya di kancah Eropa. Pada pertandingan kedua League Phase Liga Champions 2025/2026 yang digelar di San Siro dini hari tadi, Nerazzurri sukses meraih kemenangan meyakinkan atas tamunya, Slavia Praha. Pertandingan ini berakhir dengan skor telak 3-0 untuk Inter, hasil yang sekaligus mempertegas ambisi mereka untuk melangkah jauh di kompetisi elite Benua Biru.

Dua gol dicetak oleh kapten sekaligus bomber utama Inter, Lautaro Martínez, sementara satu gol tambahan lahir dari aksi impresif Denzel Dumfries. Kemenangan ini bukan hanya menambah poin penuh bagi Inter, tetapi juga memberikan suntikan moral yang sangat penting bagi skuat asuhan Cristian Chivu.

Inter Milan Dominasi Jalannya Pertandingan

Sejak peluit awal dibunyikan, Inter Milan langsung menguasai jalannya pertandingan. Dukungan penuh suporter di San Siro membuat Lautaro Martínez dan kawan-kawan tampil percaya diri. Serangan demi serangan dilancarkan melalui kombinasi permainan cepat di lini tengah yang dikomandoi Nicolò Barella dan Hakan Çalhanoğlu.

Gol pertama akhirnya tercipta pada menit ke-22 melalui Lautaro. Striker Argentina itu memanfaatkan umpan terobosan Marcus Thuram dengan penyelesaian dingin yang tak mampu dihalau kiper Slavia. Gol tersebut semakin melecut semangat tuan rumah untuk menekan pertahanan lawan.

Slavia Praha yang datang sebagai underdog berusaha memberi perlawanan, namun mereka kesulitan menembus rapatnya barisan pertahanan Inter yang dikawal oleh Alessandro Bastoni dan Stefan de Vrij. Setiap kali Slavia mencoba membangun serangan, bola cepat direbut kembali oleh Inter untuk dilancarkan menjadi serangan balik.

Gol Tambahan dan Performa Lini Serang

Memasuki babak kedua, Inter kembali menambah keunggulan lewat Lautaro Martínez. Berawal dari pergerakan cerdik Federico Dimarco di sisi kiri, bola silang matang berhasil dituntaskan Lautaro dengan sundulan keras pada menit ke-54. Gol ini membuat publik San Siro bergemuruh sekaligus menegaskan status Lautaro sebagai predator utama Nerazzurri di Liga Champions musim ini.

Gol penutup kemudian dicetak oleh Denzel Dumfries pada menit ke-73. Bek sayap asal Belanda itu menusuk dari sisi kanan sebelum melepaskan tendangan keras yang gagal diantisipasi kiper Slavia. Skor 3-0 bertahan hingga akhir pertandingan dan menjadi pesta sempurna bagi Inter Milan.

Cristian Chivu Puas dengan Penampilan Tim

Usai laga, manajer Inter Milan, Cristian Chivu, tidak bisa menyembunyikan rasa puasnya. Ia menilai performa anak asuhnya semakin membaik dari laga ke laga. Menurutnya, para pemain tidak hanya bermain dengan determinasi tinggi, tetapi juga menunjukkan kedewasaan dalam mengelola jalannya pertandingan.

“Ini pertandingan yang sangat penting bagi kami. Hari ini para pemain menunjukkan sikap yang bagus, mereka tampil seimbang, bersenang-senang di lapangan, tetapi tetap berhati-hati. Saya merasa para pemain kami semakin berkembang,” ujar Chivu, dikutip dari laman resmi UEFA.

Eks legenda Inter Milan itu juga menyoroti etos kerja skuatnya. Ia memuji bagaimana seluruh pemain, baik starter maupun pengganti, mampu menjaga intensitas permainan. “Saya melihat para pemain kami mau bekerja keras untuk melakukan sejumlah hal yang baru. Itu membuat saya senang. Saya juga gembira karena bisa memberikan menit bermain kepada pemain yang selama ini jarang diturunkan,” tambahnya.

Kemenangan Krusial di Liga Champions

Walaupun Slavia Praha bukan tim unggulan di turnamen ini, kemenangan tersebut dinilai Chivu tetap krusial. Dalam format baru League Phase Liga Champions, setiap kemenangan memiliki arti besar karena akan menentukan posisi di klasemen akhir. Dengan hasil ini, Inter Milan berhasil mengoleksi poin penuh dan menjaga asa untuk lolos ke babak knockout.

Selain itu, kemenangan ini semakin meningkatkan kepercayaan diri para pemain menjelang pertandingan-pertandingan berikutnya. Dukungan penuh fans di San Siro juga memperlihatkan bahwa hubungan emosional antara tim dan pendukung tetap solid, sesuatu yang sangat penting bagi perjalanan panjang Inter musim ini.

Fokus Laga Berikutnya

Setelah pesta kemenangan atas Slavia Praha, Inter Milan tidak memiliki banyak waktu untuk beristirahat. Mereka langsung mengalihkan fokus ke kompetisi domestik Serie A. Pada akhir pekan ini, Nerazzurri dijadwalkan menghadapi Cremonese, laga yang menjadi ujian sebelum jeda internasional dimulai.

Cristian Chivu menegaskan bahwa timnya harus tetap fokus dan konsisten. “Liga Champions memang penting, tetapi kami juga tidak boleh lengah di Serie A. Kami ingin terus berada di jalur kemenangan di semua kompetisi,” tegasnya.

Lautaro Martínez Kian Tajam

Salah satu sorotan terbesar dalam kemenangan Inter kali ini adalah performa Lautaro Martínez. Dengan torehan dua golnya, ia kini menjadi top skor sementara Inter di Liga Champions musim ini. Perannya sebagai kapten benar-benar ditunjukkan lewat kerja keras, kepemimpinan, dan naluri mencetak gol yang tinggi.

Tidak hanya itu, Lautaro juga berperan penting dalam membangun serangan tim. Ia sering turun ke lini tengah untuk membantu aliran bola sekaligus membuka ruang bagi rekan setimnya. Performanya yang konsisten membuat banyak pihak yakin bahwa musim ini bisa menjadi salah satu musim terbaik dalam kariernya.

Kesimpulan

Kemenangan 3-0 atas Slavia Praha menjadi bukti bahwa Inter Milan berada dalam jalur yang tepat di bawah asuhan Cristian Chivu. Performa solid di lini pertahanan, kreativitas di lini tengah, serta ketajaman di lini depan membuat Nerazzurri tampil dominan.

Dengan semangat dan determinasi tinggi, Inter Milan kini menatap laga-laga berikutnya dengan optimisme. Jika performa ini bisa dipertahankan, bukan tidak mungkin Inter Milan kembali menjadi salah satu kandidat kuat juara Liga Champions musim 2025/2026. Baca juga, Berita Update Tentang Dunia Sepak Bola Internasional.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

PSG vs Atalanta: Juara Bertahan vs Kuda Hitam yang Tak Bisa Diremehkan

0 0
Read Time:5 Minute, 29 Second

PSG vs Atalanta: Duel Pembuka Liga Champions yang Penuh Gengsi

Paris Saint-Germain (PSG) memulai langkah mereka untuk mempertahankan gelar Liga Champions dengan menghadapi Atalanta pada matchday 1 fase liga Liga Champions 2025/2026. Laga PSG vs Atalanta akan berlangsung di Parc des Princes pada Kamis, 18 September 2025, pukul 02.00 WIB.

Pertemuan ini bukan sekadar pertandingan pembuka. PSG datang dengan status juara bertahan, sementara Atalanta kembali hadir sebagai kuda hitam yang tak bisa diremehkan. Tim asal Bergamo tersebut telah beberapa kali membuktikan diri sebagai lawan yang merepotkan bagi klub-klub besar Eropa.

PSG jelas ingin mengawali perjalanan musim ini dengan kemenangan, tetapi Atalanta memiliki catatan tandang impresif di kompetisi Eropa. Dengan sejarah pertemuan yang dramatis pada 2019/20, atmosfer laga ini dipastikan penuh tensi.


Sejarah Pertemuan PSG vs Atalanta

Meski hanya bertemu sekali sebelumnya, duel antara PSG dan Atalanta menyimpan cerita yang tidak terlupakan. Pertemuan mereka terjadi pada perempat final Liga Champions 2019/20 di Lisbon. Kala itu, Atalanta sempat unggul lebih dulu melalui gol Mario Pasalic di babak pertama. PSG kemudian melakukan comeback dramatis di menit akhir. Marquinhos menyamakan kedudukan pada menit ke-90, sebelum Eric Maxim Choupo-Moting mencetak gol kemenangan di injury time.

Kemenangan tersebut menjadi titik balik bagi PSG, menandai keseriusan mereka dalam berburu gelar Liga Champions yang akhirnya berbuah manis pada musim berikutnya. Bagi Atalanta, meski kalah, performa mereka di laga tersebut mendapat banyak pujian karena tampil berani melawan raksasa Prancis.


Statistik Head-to-Head dan Rekor Melawan Klub Italia

Secara keseluruhan, PSG memiliki rekor apik saat menghadapi klub Italia. Dalam 12 pertandingan terakhir, Les Parisiens hanya menelan satu kekalahan. Rinciannya: menang lima kali, imbang enam kali, dan kalah sekali. Rekor ini menunjukkan bahwa PSG cukup percaya diri melawan tim-tim dari Serie A.

Musim lalu, PSG bahkan memecahkan rekor dengan kemenangan telak 5-0 atas Inter Milan di final Liga Champions. Margin kemenangan tersebut menjadi yang terbesar dalam sejarah partai final kompetisi elit Eropa.

Sementara itu, Atalanta juga memiliki catatan baik melawan klub Prancis. Dari lima pertemuan terakhir, mereka hanya sekali kalah—dan itu melawan PSG pada 2020. Sisanya, mereka meraih dua kemenangan dan dua hasil imbang. Dalam laga tandang di tanah Prancis, Atalanta selalu mampu mencuri hasil positif dengan dua kali imbang 1-1.


PSG: Status Juara Bertahan dan Misi Back-to-Back

Musim ini menjadi partisipasi ke-18 PSG di Liga Champions, sekaligus ke-13 beruntun sejak musim 2012/13. Mereka belum pernah absen dari fase gugur selama 12 musim terakhir, sebuah konsistensi yang jarang dimiliki klub-klub lain.

Di bawah arahan Luis Enrique, PSG menjalani perjalanan luar biasa musim lalu. Meski sempat terseok di fase liga dan finis di posisi ke-15 (menang 4, imbang 1, kalah 3), mereka bangkit di babak gugur. Brest dilumat 10-0 secara agregat, Liverpool disingkirkan lewat adu penalti (1-1, penalti 4-1), Aston Villa dikalahkan 5-4, dan Arsenal ditumbangkan 3-1 di semifinal. Puncaknya, PSG menghancurkan Inter Milan 5-0 di final Munich, kemenangan terbesar dalam sejarah final Liga Champions.

Keberhasilan itu membuat PSG menjadi klub Prancis kedua yang mengangkat trofi Liga Champions setelah Marseille (1993). Tidak hanya itu, awal musim ini PSG juga menambahkan koleksi trofi dengan merebut UEFA Super Cup untuk pertama kalinya dalam sejarah klub, setelah menundukkan Tottenham lewat adu penalti 4-3.


Atalanta: Era Baru di Bawah Ivan Juric

Atalanta kembali ke Liga Champions untuk kelima kalinya sejak 2019—sebuah pencapaian luar biasa untuk klub yang sebelumnya jarang tampil di panggung besar Eropa. Musim lalu, mereka finis di posisi kesembilan fase liga (menang 4, imbang 3, kalah 1) namun harus tersingkir lebih awal setelah kalah agregat 2-5 dari Club Brugge di play-off babak gugur.

Musim panas 2025 membawa perubahan besar di Bergamo. Gian Piero Gasperini, arsitek kebangkitan Atalanta sejak 2016, memutuskan mundur. Ivan Juric, mantan pelatih Torino, ditunjuk untuk memimpin tim. Juric diharapkan dapat mempertahankan identitas menyerang khas La Dea sambil memperkuat lini pertahanan agar lebih solid di Eropa.

Statistik mendukung optimisme Atalanta. Mereka hanya kalah sekali dari 14 laga terakhir di fase grup/fase liga kompetisi Eropa (menang 8, imbang 5). Di laga tandang, mereka bahkan tidak terkalahkan dalam delapan pertandingan terakhir (menang 5, imbang 3). Produktivitas gol juga menjadi senjata utama: Atalanta berhasil mencetak gol dalam 21 dari 23 laga Eropa terakhir mereka, termasuk 15 laga tandang beruntun.


Analisis Kekuatan Kedua Tim

PSG memiliki lini serang bertabur bintang dan mental juara yang teruji. Luis Enrique kemungkinan akan tetap mengandalkan gaya bermain menyerang berbasis penguasaan bola. Pemain-pemain seperti Kylian Mbappé dan penyerang anyar klub diyakini siap menjadi ancaman utama bagi pertahanan Atalanta. Lini tengah PSG juga solid, dengan kombinasi kreativitas dan kekuatan fisik.

Atalanta, di sisi lain, masih mengusung filosofi sepak bola menyerang yang agresif. Juric kemungkinan akan tetap menggunakan formasi tiga bek khas La Dea, sambil memanfaatkan kecepatan pemain sayap dan kecerdikan gelandang mereka. Kelebihan Atalanta adalah kemampuan mereka memanfaatkan celah di pertahanan lawan dengan serangan balik cepat dan kombinasi passing yang rapi.


Faktor Kunci Pertandingan

  1. Mental Juara PSG: Setelah menjuarai Liga Champions musim lalu, PSG memiliki pengalaman dan kepercayaan diri tinggi. Bermain di Parc des Princes akan menjadi keuntungan besar.
  2. Ketajaman Atalanta di Tandang: Rekor tak terkalahkan mereka di laga tandang Eropa membuat PSG harus ekstra waspada.
  3. Pertarungan Taktik Enrique vs Juric: Laga ini bukan hanya soal kualitas pemain, tetapi juga duel strategi antara dua pelatih dengan filosofi berbeda.
  4. Sejarah Pertemuan Dramatis: Kemenangan PSG di menit akhir pada 2020 pasti masih segar di ingatan Atalanta. Motivasi balas dendam bisa menjadi faktor tambahan.

Prediksi dan Harapan

PSG jelas lebih difavoritkan, mengingat status mereka sebagai juara bertahan dan kualitas skuad yang mumpuni. Namun, menganggap enteng Atalanta bisa menjadi kesalahan fatal. Tim Italia ini terbukti mampu merepotkan siapa saja, bahkan ketika tampil di kandang lawan.

Dengan kedua tim sama-sama memiliki lini serang tajam, laga ini berpotensi menghadirkan banyak gol. PSG diprediksi akan mencoba menguasai jalannya pertandingan sejak awal, sementara Atalanta akan menunggu momen tepat untuk melancarkan serangan balik cepat.

Hasil imbang dengan skor tinggi atau kemenangan tipis bagi PSG tampaknya menjadi skenario paling realistis. Namun, apapun hasilnya, duel ini dipastikan akan memanjakan penggemar sepak bola Eropa.


Kesimpulan

Pertarungan PSG vs Atalanta bukan hanya sekadar laga pembuka fase liga Liga Champions 2025/2026. Ini adalah ujian awal bagi PSG untuk mempertahankan gelar mereka, sekaligus kesempatan bagi Atalanta untuk memperkuat reputasi sebagai kuda hitam Eropa. Dengan sejarah pertemuan yang dramatis, statistik impresif, dan kekuatan masing-masing tim, duel di Parc des Princes ini dipastikan akan penuh drama dan kualitas tinggi.

Jangan lewatkan laga seru ini pada Kamis, 18 September 2025, pukul 02.00 WIB. Dan baca juga: Info Seputar Sepak Bola Internasional.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %