Man of the Match Man City vs Leeds United: Phil Foden, Sang Penyelamat di Etihad Stadium

0 0
Read Time:3 Minute, 51 Second

Man City vs Leeds United, Manchester City kembali menunjukkan mental juara mereka setelah meraih kemenangan dramatis 3-2 atas Leeds United dalam lanjutan pekan ke-13 Premier League 2025/2026. Laga yang berlangsung di Etihad Stadium pada Sabtu (29/11/2025) malam WIB itu menghadirkan tensi tinggi sejak menit pertama, menghadirkan drama lima gol, dan akhirnya menjadikan Phil Foden sebagai pahlawan utama sekaligus Man of the Match.

Pertandingan ini memperlihatkan dua sisi berbeda dari Manchester City: satu sisi memperlihatkan dominasi penguasaan bola seperti biasa. Namun di sisi lain memperlihatkan rentannya lini pertahanan mereka ketika mendapat tekanan balik cepat dari Leeds United. Meski begitu, penampilan luar biasa Phil Foden membuat semua keraguan hilang, terutama ketika ia menjadi aktor utama dalam dua dari tiga gol kemenangan City.

Babak Pertama: Kejutan Kilat dari Phil Foden

Laga baru berjalan beberapa detik ketika Manchester City langsung mengguncang pertahanan Leeds United. Phil Foden membuka keunggulan tuan rumah pada menit pertama setelah menerima umpan matang dari Matheus Nunes. Gol cepat ini menegaskan kualitas City dalam memanfaatkan momen dan menunjukkan betapa efektifnya mereka membongkar tekanan sejak tendangan awal.

Foden tidak hanya mencetak gol, tetapi juga berperan sebagai pusat kreativitas di lini tengah. Ia kerap bergerak bebas, berpindah dari sisi kiri ke tengah, dan menciptakan banyak ruang bagi rekan-rekannya. Pergerakan dinamis ini membuat pertahanan Leeds cukup kewalahan, meski mereka sesekali mampu keluar dan melancarkan serangan balik berbahaya.

Leeds United yang tampil tanpa beban dan mencoba bermain terbuka sempat memberikan perlawanan bagus. Mereka tidak ragu menekan City sejak area tengah dan kerap mencuri bola untuk membangun serangan balik cepat. Dominic Calvert-Lewin bahkan sukses menyamakan kedudukan melalui skema serangan balik yang rapi.

Babak Kedua: Leeds Mengancam, City Tetap Dominan

Memasuki babak kedua, tempo pertandingan tidak menurun. Manchester City yang terbiasa menguasai bola mendominasi permainan dengan rataan 65–70 persen penguasaan. Namun, Leeds berulang kali membuktikan bahwa mereka bisa memanfaatkan celah di lini pertahanan City yang sering maju terlalu tinggi.

Lukas Nmecha kemudian menambah gol bagi Leeds, membuat pertandingan semakin menegangkan bagi para pendukung tuan rumah. Leeds sebenarnya sempat beberapa kali mengejutkan City lewat kombinasi cepat di lini depan, namun organisasi permainan Manchester City secara keseluruhan tetap terlihat lebih solid dalam penguasaan bola dan membangun serangan.

City akhirnya berhasil menambah gol melalui aksi salah satu pemain depan mereka yang memanfaatkan kemelut di depan gawang. Skor kembali imbang, namun intensitas laga tetap tinggi hingga menit-menit akhir.

Foden Menjadi Penentu Kemenangan di Menit Kritis

Ketika pertandingan seolah akan berakhir dengan skor imbang 2-2, Phil Foden kembali menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu pemain paling menentukan di skuad Pep Guardiola. Pada masa injury time, ketika tekanan dan ekspektasi begitu tinggi, Foden melepaskan tendangan terukur ke pojok gawang Leeds yang tak mampu dibendung kiper lawan.

Gol ini bukan hanya memastikan tiga poin bagi Manchester City, tetapi juga mempertegas peran Foden sebagai pemain yang mampu menentukan hasil pertandingan pada momen-momen krusial. Dalam usia 25 tahun, kedewasaan bermainnya terlihat jelas dari ketenangan, kecermatan, dan kemampuan memanfaatkan peluang di waktu yang tepat.

Stadion Etihad pun bergemuruh, dan kemenangan dramatis ini membuat City naik ke posisi kedua klasemen sementara Premier League dengan 25 poin dari 13 pertandingan. Sementara itu, Leeds United harus puas tertahan di zona merah dengan 11 poin.

Alasan Phil Foden Layak Menjadi Man of the Match

Premier League menobatkan Phil Foden sebagai Man of the Match dengan perolehan suara mencapai 71 persen dalam voting resmi. Angka tersebut mencerminkan dominasi Foden sepanjang laga dan kontribusinya yang begitu menentukan hasil akhir.

Beberapa catatan penting Foden dalam laga ini antara lain:

  • Mencetak dua gol, termasuk gol penentu kemenangan.
  • Bermain penuh selama 90 menit tanpa penurunan intensitas.
  • Empat kali melepaskan tembakan, dengan dua di antaranya berbuah gol.
  • Akurasi umpan 87 persen, dari 45 percobaan dan 39 di antaranya sukses.
  • Menciptakan satu peluang matang yang hampir berbuah gol.
  • Menjadi motor serangan yang menjaga ritme permainan City.

Statistik tersebut tidak hanya menunjukkan kreativitas Foden dalam menyerang, tetapi juga efektivitasnya sebagai gelandang serang yang bisa menjadi pembeda dalam situasi kritis. Kombinasi visi bermain, kemampuan dribel, dan penyelesaian akhirnya membuatnya tampil sangat menonjol.

Penutup

Man City vs Leeds United, Kemenangan dramatis atas Leeds United ini menjadi salah satu laga terbaik Manchester City di musim 2025/2026 sejauh ini. Selain memperbaiki posisi di klasemen, hasil ini juga menegaskan betapa pentingnya peran Phil Foden dalam struktur permainan City. Dengan performa seperti ini, Foden tidak hanya menjadi pemain terbaik di laga tersebut, tetapi juga menunjukkan dirinya sebagai salah satu gelandang terbaik di Premier League.

Manchester City kini kembali ke jalur yang tepat dalam persaingan gelar juara. Jika Foden dan rekan-rekannya bisa mempertahankan konsistensi, peluang City untuk merebut posisi puncak semakin terbuka lebar.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Man of the Match Sunderland vs Arsenal: Bukayo Saka Tampil Paling Menonjol

0 0
Read Time:3 Minute, 53 Second

Bukayo Saka kembali membuktikan dirinya sebagai salah satu winger terbaik di Premier League. Dalam laga panas antara Sunderland vs Arsenal pada pekan ke-11 Premier League 2025/2026, pemain Timnas Inggris tersebut terpilih sebagai Man of the Match setelah tampil dominan di sisi kanan serangan The Gunners. Meski pertandingan berakhir imbang 2-2 dan Arsenal kehilangan kemenangan di masa injury time, kontribusi Saka tetap menjadi sorotan utama.

Pertandingan yang berlangsung di Stadium of Light, Minggu (9/11/2025) dini hari WIB itu menyajikan drama hingga menit akhir. Arsenal yang tampil percaya diri sempat tertinggal lebih dulu, namun berhasil membalikkan keadaan lewat gol Bukayo Saka dan Leandro Trossard. Sayangnya, keunggulan tersebut hilang setelah Sunderland mencetak gol penyeimbang di masa injury time melalui Brian Brobbey.

Hasil ini membuat Arsenal tetap berada di puncak klasemen dengan koleksi 26 poin, sementara Sunderland yang tampil impresif musim ini bertahan di posisi ketiga dengan 19 poin. Walau gagal membawa tiga poin penuh, performa individu Saka tidak bisa diabaikan—baik secara kontribusi ofensif maupun kedisiplinan saat bertahan.


Performa Gemilang Saka: Motor Serangan Arsenal

Sejak menit awal, Arsenal tampil agresif dan mengandalkan kecepatan dua wingers mereka, yakni Leandro Trossard di kiri dan Bukayo Saka di kanan. Namun, Saka tampil lebih eksplosif dengan sejumlah penetrasi yang memaksa pertahanan Sunderland bekerja keras.

Gol Pembalik Momentum

Saka di menit ke-54 menjadi turning point pertandingan. Gol tersebut berawal dari pergerakan Mikel Merino yang jeli melihat ruang kosong di antara dua bek Sunderland. Dengan umpan terukur, Merino mengirim bola ke arah Saka yang berlari masuk ke kotak penalti. Dengan ketenangan tinggi, Saka mengeksekusi bola ke sudut bawah gawang tanpa memberi peluang Robin Roefs untuk menyelamatkan.

Gol itu bukan hanya mengubah keadaan, tetapi juga mengangkat moral seluruh pemain Arsenal. Setelah gol tersebut, intensitas serangan The Gunners meningkat drastis dan membuat Sunderland kesulitan keluar dari tekanan.

Kontribusi dalam Build-up dan Transisi

Selain mencetak gol, Saka berperan besar dalam membangun permainan:

  • Menarik bek lawan keluar dari posisinya
  • Menciptakan overload di sisi kanan
  • Memberikan umpan-umpan progresif ke Merino dan Eze
  • Menghasilkan dua peluang emas yang hampir berbuah gol tambahan

Saat Arsenal kehilangan bola, Saka juga kembali dengan cepat untuk menutup ruang. Hal ini terlihat jelas di babak kedua ketika Sunderland mulai meningkatkan intensitas serangan. Mobilitas dan disiplin bertahan menjadi nilai tambah dalam performanya.


Statistik Saka: Data yang Mengonfirmasi Dominasinya

Menurut data yang dirilis FotMob, Saka mencatat performa komprehensif, baik dalam aspek ofensif maupun defensif. Berikut data lengkapnya:

  • Akurasi umpan: 90% (36 dari 40)
  • Gol: 1
  • xG: 0,52
  • xA: 0,31
  • Peluang tercipta: 2
  • Aksi bertahan: 12

Statistik ini menunjukkan bahwa Saka bukan hanya menjadi ancaman utama dalam serangan, tetapi juga pemain yang bekerja keras dalam fase bertahan. Kombinasi kontribusi di dua fase inilah yang membuatnya meraih suara tertinggi dalam voting Man of the Match di situs resmi Premier League dengan torehan 33 persen suara.


Jalannya Pertandingan: Duel Dua Tim Bertempo Tinggi

Pertandingan ini mempertemukan dua tim yang sedang tampil konsisten. Sunderland, meski berstatus tim promosi dalam beberapa musim terakhir, kini berkembang menjadi tim yang solid dan kompetitif di tangan Regis Le Bris.

Babak Pertama: Sunderland Unggul Lewat Intensitas Tinggi

Sunderland membuka laga dengan tekanan intens. Dengan formasi 5-4-1, mereka bermain kompak dalam bertahan namun cepat melakukan transisi saat menyerang. Arsenal sempat kesulitan menemukan ritme sampai akhirnya Sunderland mencetak gol pertama di pertengahan babak pertama.

Arsenal meningkatkan intensitas permainan menjelang turun minum tetapi belum bisa membongkar pertahanan Sunderland yang rapat.

Babak Kedua: Arsenal Balikkan Kedudukan, Sunderland Balas di Akhir

Arsenal tampil lebih agresif di babak kedua, dan kombinasi Merino–Saka berhasil menyamakan skor. Tidak lama berselang, Trossard mencetak gol kedua yang membawa Arsenal berbalik unggul.

Namun drama terjadi di injury time. Kehilangan konsentrasi di lini belakang membuat Sunderland berhasil mencetak gol penyama kedudukan melalui Brian Brobbey. David Raya tak mampu menghentikan sontekan jarak dekat tersebut.

Hasil akhir 2-2 menjadi cerminan pertandingan yang penuh taktik, intensitas tinggi, dan determinasi dari kedua tim.


Susunan Pemain

Sunderland (5-4-1)

Robin Roefs; Trai Hume, Nordi Mukiele, Dan Ballard, Lutsharel Geertruida, Reinildo Mandava; Enzo Le Fee, Noah Sadiki, Granit Xhaka, Bertrand Traore; Wilson Isidor.
Pelatih: Regis Le Bris

Arsenal (4-3-3)

David Raya; Riccardo Calafiori, Gabriel, William Saliba, Jurrien Timber; Eberechi Eze, Martin Zubimendi, Declan Rice; Leandro Trossard, Mikel Merino, Bukayo Saka.
Pelatih: Mikel Arteta


Kesimpulan

Meski Arsenal gagal meraih kemenangan di detik-detik akhir, performa individu Bukayo Saka tetap menjadi highlight utama laga ini. Dengan kontribusi gol, kreativitas tanpa henti, serta disiplin bertahan, Saka bukan hanya berperan sebagai winger cepat, tetapi juga sebagai komponen vital dalam struktur permainan Mikel Arteta.

Dengan performa seperti ini, tidak mengherankan jika publik dan situs resmi Premier League menjadikannya Man of the Match.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Hasil Sunderland vs Arsenal: Gol di Menit Akhir Bikin The Gunners Gigit Jari

0 0
Read Time:3 Minute, 39 Second

Laga antara Sunderland vs Arsenal pada pekan ke-11 Premier League 2025/2026 berlangsung dramatis dan penuh ketegangan. Pertandingan yang digelar di Stadium of Light pada Minggu (9/11/2025) dini hari WIB ini berakhir dengan skor 2-2, setelah Sunderland mencetak gol penyama kedudukan di detik-detik terakhir pertandingan.

Arsenal sebenarnya berada di atas angin setelah mampu membalikkan keadaan melalui gol Bukayo Saka dan Leandro Trossard. Namun konsentrasi yang menurun di masa injury time membuat kemenangan mereka buyar. Hasil ini menjadi pukulan bagi The Gunners, yang sudah menguasai jalannya laga dan terlihat siap mengamankan tiga poin penuh.

Meski demikian, satu poin tetap membuat Arsenal berada di puncak klasemen Premier League dengan koleksi 26 poin dari 11 pertandingan. Sementara itu, Sunderland kembali menunjukkan bahwa mereka bukan tim kejutan biasa. Dengan mengumpulkan 19 poin, The Black Cats kini nyaman berada di posisi ketiga klasemen, menegaskan performa impresif mereka sepanjang musim.


Babak Pertama: Arsenal Dominan, Sunderland Efektif

Sejak peluit kick-off dibunyikan, Arsenal langsung mengambil inisiatif serangan. Penguasaan bola mereka mendominasi, bahkan mencapai 65% sepanjang laga, sebuah indikasi jelas bahwa tim asuhan Mikel Arteta datang dengan misi menguasai jalannya pertandingan.

Arsenal memiliki sejumlah peluang berbahaya di babak pertama. Declan Rice hampir membuka skor pada menit ke-15 lewat eksekusi tendangan bebas akurat, tetapi kiper Sunderland, Robin Roefs, tampil sigap dengan penyelamatan gemilang. Tak lama berselang, Eberechi Eze mendapatkan peluang emas, tetapi finishing-nya masih belum menemui sasaran.

Di tengah dominasi Arsenal, Sunderland menunjukkan kedisiplinan dan kecerdikan dalam bertahan. Mereka mengandalkan formasi 5-4-1 yang membuat area pertahanan mereka sulit ditembus. Kesabaran mereka terbayar di menit ke-36. Lewat serangan balik terstruktur, bola mengarah kepada Daniel Ballard yang melepaskan tembakan jarak menengah. Bola meluncur keras ke sisi kanan gawang David Raya, membuat Sunderland unggul 1-0 sekaligus memecah kebuntuan.

Gol tersebut memicu sorak riuh dari suporter tuan rumah yang memenuhi Stadium of Light. Arsenal mencoba merespons dan memperoleh peluang melalui William Saliba menjelang turun minum. Sayangnya, tendangan jarak dekat sang bek justru melambung tinggi dan membuat The Gunners gagal menyamakan kedudukan hingga babak pertama berakhir.


Babak Kedua: Arsenal Bangkit, Sunderland Tak Menyerah

Memasuki babak kedua, Arsenal tampil jauh lebih agresif dan meningkatkan tempo permainan. Martin Zubimendi membuka ancaman lewat tendangan langsung ke arah gawang, tetapi Roefs lagi-lagi tampil kokoh.

Tekanan intens Arsenal akhirnya berbuah hasil pada menit ke-54. Kerja sama kombinatif antara Mikel Merino dan Bukayo Saka berhasil mengoyak sisi pertahanan Sunderland. Saka yang menerima bola di kotak penalti dengan tenang menempatkan bola ke pojok kanan bawah. Skor pun berubah menjadi 1-1.

Gol tersebut membuat momentum bergeser ke kubu Arsenal. The Gunners semakin percaya diri dan terus menekan pertahanan Sunderland. Pada menit ke-74, kebuntuan mereka pecah kembali. Kali ini giliran Leandro Trossard yang mencatatkan namanya di papan skor melalui tembakan keras dari luar kotak penalti. Bola melengkung dan tak mampu dijangkau Robin Roefs, membuat Arsenal berbalik unggul 2-1.

Setelah unggul, Arsenal tampak berusaha mengontrol tempo, tetapi situasi itu justru membuat mereka kehilangan agresivitas. Sunderland yang butuh poin mulai meningkatkan pressing dan mencoba mencari peluang lewat bola-bola direct dan serangan cepat di sisi sayap.


Gol Penyeimbang Sunderland: Drama di Masa Injury Time

Pertandingan tampak akan berakhir dengan kemenangan Arsenal, tetapi Sunderland tidak menyerah. Tekanan mereka akhirnya berbuah pada menit ke-94 melalui Brian Brobbey, yang memanfaatkan kelengahan lini belakang Arsenal. Brobbey dengan tenang menaklukkan David Raya dalam situasi satu lawan satu.

Gol tersebut sempat ditinjau oleh VAR untuk memastikan tidak ada pelanggaran ataupun offside. Setelah beberapa saat, VAR menyatakan gol sah dan skor pun berubah menjadi 2-2. Stadium of Light meledak dalam kegembiraan, sedangkan para pemain Arsenal terlihat terpukul karena kehilangan tiga poin di detik-detik akhir.


Statistik Pertandingan Sunderland vs Arsenal

  • Tembakan: 6 – 17
  • Tembakan tepat sasaran: 2 – 7
  • Penguasaan bola: 35% – 65%
  • Pelanggaran: 13 – 13
  • Kartu kuning: 2 – 1
  • Kartu merah: 0 – 0
  • Offside: 2 – 0
  • Tendangan sudut: 2 – 2

Statistik memperlihatkan dominasi Arsenal, tetapi Sunderland jauh lebih efisien dalam mengonversi peluang. Organisasi pertahanan yang solid serta efektivitas transisi menjadi kunci hasil imbang ini.


Susunan Pemain

Sunderland (5-4-1)

Robin Roefs; Trai Hume, Nordi Mukiele, Dan Ballard, Lutsharel Geertruida, Reinildo Mandava; Enzo Le Fée, Noah Sadiki, Granit Xhaka, Bertrand Traoré; Wilson Isidor.
Pelatih: Régis Le Bris

Arsenal (4-3-3)

David Raya; Riccardo Calafiori, Gabriel, William Saliba, Jurriën Timber; Eberechi Eze, Martin Zubimendi, Declan Rice; Leandro Trossard, Mikel Merino, Bukayo Saka.
Pelatih: Mikel Arteta

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Harry Maguire Siap Perpanjang Kontrak dengan Manchester United Sebelum Akhir 2025

0 0
Read Time:2 Minute, 16 Second

Harry Maguire dilaporkan bersiap menandatangani kontrak baru bersama Manchester United. Bek tengah berusia 32 tahun itu kini memasuki delapan bulan terakhir masa kerjanya, dan pembicaraan awal mengenai perpanjangan sudah mulai dilakukan oleh pihak klub.

Direktur negosiasi sepak bola United, Matt Hargreaves, disebut telah bertemu dengan agen Maguire untuk membahas detail kontrak baru.

Langkah ini menegaskan bahwa pelatih Ruben Amorim masih menilai Maguire sebagai bagian penting dalam rencana jangka panjang timnya di Old Trafford.


Rincian Gaji Maguire

Pada Januari lalu, Manchester United sempat mengaktifkan klausul perpanjangan otomatis selama satu tahun dalam kontrak Maguire, keputusan yang mendapat dukungan penuh dari Amorim.

Pelatih asal Portugal itu bahkan kembali menunjuk mantan kapten tersebut sebagai salah satu pemimpin di ruang ganti musim panas ini.

Berbeda dengan kebijakan klub terhadap David de Gea dua tahun lalu, Maguire diperkirakan akan mempertahankan besaran gajinya.

Meski begitu, kegagalan United menembus Liga Champions pada Mei 2024 membuat upahnya otomatis dipotong 25 persen, kini menjadi sekitar £140.000 per pekan.


Kebangkitan Maguire

Sejak ditangani Ruben Amorim, Harry Maguire berhasil membalikkan kritik menjadi pujian. Ia kembali menunjukkan kepercayaan diri serta semangat kepemimpinan tinggi di lapangan.

Pada laga Piala Liga melawan Grimsby Town bulan Agustus lalu, Maguire bahkan kembali dipercaya mengenakan ban kapten. Untuk pertama kalinya sejak status tersebut dicabut oleh Erik ten Hag pada Juli 2023.

Meski tak lagi menjadi bagian dari Timnas Inggris, performanya di klub terus meningkat. Setelah transfer senilai £30 juta ke West Ham gagal terealisasi pada 2023. Maguire justru bangkit dan menjadi sosok paling konsisten di lini pertahanan United.

Momen terbaiknya terjadi pada April 2024. Ketika ia mencetak gol penentu kemenangan di menit ke-121 kontra Lyon pada perempat final Liga Europa.

Gol dramatis itu membuat para suporter di Old Trafford kembali memberikan dukungan penuh kepadanya. Sebuah perubahan besar dibanding masa-masa ketika ia kerap disoraki saat tur pramusim ke Australia, Amerika Serikat, dan Irlandia.


Peran Vital di Skuad Amorim

Kini, Harry Maguire menjadi bek tengah paling berpengalaman di skuad Manchester United. Ia telah tampil dalam 38 dari 50 pertandingan di bawah asuhan Amorim.

Sejak didatangkan dari Leicester City pada 2019 dengan nilai transfer £80 juta, Maguire masih memegang rekor sebagai bek termahal di dunia.

Bulan lalu, Maguire juga menerima penghargaan khusus dari direktur sepak bola Jason Wilcox setelah mencatatkan penampilan ke-250 bersama United — sebuah pencapaian yang menegaskan statusnya sebagai salah satu pemain paling loyal dan berpengaruh di Old Trafford.


Kesimpulan

Rencana perpanjangan kontrak ini menunjukkan bahwa Manchester United masih mempercayai kemampuan dan kepemimpinan Harry Maguire. Dengan konsistensi dan dedikasi yang ia tunjukkan di bawah asuhan Ruben Amorim, masa depan Maguire di Old Trafford tampak masih cerah — dan ia tampaknya akan terus menjadi bagian penting dari proyek jangka panjang Setan Merah. Baca juga, Informasi Lengkap Seputar Dunia Sepak Bola Internasional.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Legenda Manchester United dan Liverpool Satu Suara: Ruben Amorim Wajib Dipecat!

0 0
Read Time:3 Minute, 27 Second

Manchester United kembali menjadi sorotan usai performa buruk yang ditampilkan di bawah asuhan Ruben Amorim. Manajer asal Portugal yang ditunjuk pada November lalu kini tengah berada di ujung tanduk setelah rentetan hasil mengecewakan.

Sejak resmi menukangi Setan Merah, Amorim hanya mampu membawa tim meraih 18 kemenangan dari total 49 pertandingan. Catatan ini dianggap sangat mengecewakan untuk tim sekelas MU yang memiliki sejarah panjang dan ekspektasi tinggi.

Musim lalu, United harus puas finis di posisi ke-15 klasemen Premier League. Tidak hanya itu, mereka juga gagal mengangkat trofi setelah kalah di final Liga Europa. Situasi ini membuat banyak pihak mulai meragukan kapasitas Amorim sebagai pelatih di level tertinggi.


Hasil Buruk Musim Ini

Sayangnya, kondisi buruk tersebut tidak kunjung membaik di musim baru. Hingga pekan keenam Premier League, Manchester United hanya mampu meraih dua kemenangan. Sisanya, mereka lebih sering kehilangan poin dan kini tercecer di posisi ke-14 klasemen sementara.

Yang lebih memalukan, MU juga harus tersingkir dini di ajang Carabao Cup setelah kalah dari tim kasta keempat, Grimsby Town. Kekalahan ini menjadi bukti nyata bahwa klub tengah mengalami krisis serius.

Puncaknya, akhir pekan lalu Setan Merah dipermalukan Brentford dengan skor 1-3 di Old Trafford. Hasil itu semakin memperpanjang catatan buruk Amorim yang belum sekalipun memberikan kemenangan beruntun di Premier League sejak ia menjabat sebagai manajer.

Padahal, manajemen klub sudah menggelontorkan lebih dari £200 juta di bursa transfer musim panas. Tiga penyerang anyar didatangkan dengan harapan bisa mendongkrak produktivitas tim. Namun, investasi besar tersebut belum juga memberikan hasil nyata.


Kritik Tajam Jamie Carragher

Legenda Liverpool, Jamie Carragher, menjadi salah satu sosok yang paling keras mengkritik Amorim. Menurutnya, filosofi permainan sang manajer tidak sesuai dengan DNA Manchester United.

“Ia memang hebat di Sporting Lisbon, tapi gaya bermainnya tidak sesuai dengan karakter klub ini,” ujar Carragher dalam program Monday Night Football.

Carragher menambahkan bahwa semakin cepat MU mengambil langkah tegas, semakin baik untuk semua pihak. “Kondisi ini sudah jadi malapetaka, baik untuk klub maupun Amorim sendiri. Jika terus dibiarkan, situasinya hanya akan semakin parah.”


Rooney Kehilangan Kesabaran

Tak hanya Carragher, legenda Manchester United, Wayne Rooney, juga sudah kehilangan kesabaran. Eks striker ikonik itu mengaku kecewa melihat performa mantan klubnya di bawah kepelatihan Amorim.

“Ini bukan Manchester United yang saya kenal. Saya berharap dia bisa mengubah keadaan, tapi jujur saya tidak melihat peluang ke arah sana,” ungkap Rooney di acara The Wayne Rooney Show.

Rooney menegaskan bahwa perubahan besar harus segera dilakukan, baik di level manajer maupun pemain. “Perubahan harus dilakukan, entah itu di level manajer, pemain, atau bahkan keduanya. Jika tidak, klub ini akan terus terpuruk.”


Pertandingan Kontra Sunderland Jadi Penentu

Situasi semakin menegangkan menjelang laga melawan Sunderland akhir pekan ini. Pertandingan tersebut disebut-sebut akan menjadi ujian terakhir Ruben Amorim sebagai manajer MU.

Dengan jeda internasional yang menanti, laga kontra tim promosi ini bisa menjadi titik balik, atau justru akhir dari masa bakti Amorim di Old Trafford. Jika kembali gagal meraih hasil positif, besar kemungkinan manajemen, terutama Ineos selaku pemegang saham mayoritas klub, akan mengambil langkah tegas.


Masa Depan Amorim di Old Trafford

Banyak pihak menilai bahwa Ruben Amorim sudah kehabisan waktu untuk membuktikan dirinya. Dengan skuat mahal dan nama besar klub sebesar MU, kegagalan demi kegagalan jelas tidak bisa ditoleransi terlalu lama.

Nama-nama calon pengganti pun mulai mencuat. Beberapa pelatih berpengalaman dikaitkan dengan MU, mulai dari manajer Premier League lainnya hingga sosok legendaris yang dianggap lebih memahami DNA klub.

Bagi para penggemar, kesabaran tampaknya juga sudah habis. Media sosial dipenuhi dengan tagar yang menyerukan pemecatan Amorim. Tekanan yang begitu besar membuat masa depan sang pelatih tampak semakin suram.


Kesimpulan

Krisis Manchester United di bawah Ruben Amorim kini semakin dalam. Kritik pedas dari dua legenda besar, Wayne Rooney dan Jamie Carragher, menjadi sinyal kuat bahwa perubahan harus segera dilakukan.

Dengan laga krusial melawan Sunderland di depan mata, masa depan Amorim dipertaruhkan. Apakah ia mampu membalikkan keadaan atau justru harus angkat kaki dari Old Trafford, semua akan terjawab dalam waktu dekat.

Yang jelas, Manchester United tidak bisa terus-menerus terjebak dalam siklus kegagalan. Klub dengan sejarah dan prestasi besar ini harus segera menemukan arah baru demi kembali bersaing di level tertinggi sepak bola Eropa. Baca juga, Informasi Lengkap Seputar Dunia Sepak Bola.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %